Aku dan Monster Jahat
Namaku Nina Syafitri, aku merupakan siswi Sekolah Menengah Atas di Ibukota Jakarta. Aku seorang seniman muda yang telah terlatih dari umur enam tahun, banyak prestasi yang sudah aku gapai di umurku yang masih dibilang muda ini. Aku sangat hobi bermain musik dan juga menari, di otakku yang terlintas hanya menari, menari, menari, dan bersenang senang. Awalnya ini memengaruhi nilaiku, namun setelah ayah memindahkanku ke sekolah khusus membuat nilai tak mempengaruhiku lagi. Rasanya senang sekali, karena bertemu manusia-manusia seperti aku. Aku memiliki seorang sahabat di sekolah yang baru ini, namanya Ratna Ningsih Ramadhani. Awalnya dia malu-malu untuk melihatku, namun setelah dua minggu aku berinteraksi dengan lingkungan baru dia seolah olah mendukungku yang membuat aku kagum akan dirinya. Kami menjadi sahabat yang dekat, sangat dekat. Jika ada sesuatu masalah maka aku ataupun Ratna akan segera membicarakannya. Namun tidak dengan masalah ini, sejak aku divonis mengidap penyakit Leukimia kronis, aku tak kuasa memberi tahu penyakit ini kepada sahabat dekatku. Aku tak ingin membuatnya cemas akan kondisiku yang sekarang, aku ingin dia melanjutkan cita-citanya tanpa khawatir dengan kondisiku. Penyakit yang aku derita ini tidak begitu ganas, namun lambat laun memanas. Ibuku juga meninggal karena monster jahat ini, namun monster yang ada di dalam diri ibuku adalah monster jahat akut. Bisa membunuh dalam hitungan minggu ataupun hari.
Suatu pagi, aku dan Ratna sedang latihan tari tradisional untuk lomba di salah satu Sekolah Menengah Negeri yang ada di kawasan Jakarta. Aku sangat gembira telah di pilih bersama sahabatku untuk mengikuti lomba yang telah kami tunggu-tunggu ini. “Nina, kenapa mukamu terlihat sangat pucat dari biasanya?” Tanya Ratna penasaran.
“apakah benar-benar pucat? Aku merasa baik-baik saja. Jangan cemas, ayo latihan lagi!” Kataku berbohong agar Ratna percaya bahwa aku sedang baik-baik saja. Selang beberapa menit, kepalaku terasa berat, sekelilingku tak terlihat jelas, rasanya ada yang menutupi mataku, sampai gerakan terakhir badanku lunglai dan jatuh ke pentas tanpa disadari pelatihku. Entah apa yang terjadi, aku mendengar suara samar-samar anak perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu di samping brankarku ini. Rasa iba ada di hatiku saat mengetahui siapa yang menangis tersedu-sedu, anak itu mulai menggoyang-goyangkan tanganku dan selalu berkata “ayo bangun, tunjukan wajah ceriamu. Kau terlihat jelek di saat begini” kalimat itu yang terus diulang-ulangnya. Rasanya aku ingin mengucapkan sepatah kata agar dirinya tak menangis, namun berat sekali untuk mengucapkannya. Setelah beberapa jam aku tak lagi mendengar suara tangis anak perempuan, melainkan seorang lelaki tua yang menatap diriku dengan tatapan iba. “lawanlah monster ini, aku yakin kau lebih kuat dari pada ibumu. Tunjukan kau bisa melawan monster ini dan menarilah agar dirimu bahagia.” Ucapnya sambil menitikkan air mata. Apakah aku anak durhaka yang membuat semua orang di dalam ruanganku ini menangis? Adakah seseorang yang bisa menghiburku dengan datang membawa boneka berwarna pink dan berkata “ayo kita lawan monster ini!” ya Tuhan maafkan aku telah membuat mereka menangis. Setelah terlelap tidur bersama bulir-bulir air dari pelupuk mata aku pun terbangun di pagi harinya.
“Selamat pagi anak ayah, hari ini kau sangat cantik!” Aku tersenyum mendengar pujian yang memang setiap pagi ayah berikan kepadaku sejak mendiang ibu kalah telak dari monster akut. “ Ayah, apakah Ratna akan ke sini pagi ini?” Tanyaku kepada Ayah. “Tentu tidak sepagi ini, karena Ratna akan latihan tari tradisional di sekolah. Cepatlah sembuh agar kau bisa menemani Ratna di pentas nanti.” Ucapnya mengecup keningku dan pergi meninggalkan ruangan bernuansa biru muda ini. Namun tak di sangka, aku melihat Ratna di balik pintu ruangan membuatku tak kuasa menahan tangis.
“Kau berhutang cerita padaku!” Tatapnya sinis sambil menangis, aku hanya mengangguk dan memeluknya. “kenapa kau tak pernah cerita?” Tanya Ratna heran. “Aku tak ingin Ratnaku ini terlalu mencemaskanku dan akhirnya kau tak fokus dengan latihan tari kita.” Jawabku menjelaskan agar tak terjadi kesalah pahaman di antara aku dan Ratna. “Kenapa kau menjengukku? Bukannya kau ada latihan pagi? Apakah guru baru itu tidak marah? Apakah dia mengkhawatirkanku?” Pertanyaanku yang seperti kereta api membuat Ratna menggelengkan kepala. “Kau ini saat sakit saja masih bisa membuatku ingin memukul kepalamu yang tidak waras itu!” Jawab Ratna mencubit pipiku.
Setelah insiden itu, aku menang dari monster jahat dan mulai latihan seperti biasanya. Tidak terlalu ketat seperti biasa, mengingat aku yang baru pulih dari melawan monster ini guru baru itu membolehkanku untuk tidak seperti biasanya. Namun aku tetap membantah itu, aku tak ingin di pandang beda oleh orang lain hanya karena diriku memiliki monster jahat dalam tubuh ini. Aku latihan dengan serius, makan makanan yang bergizi agar monster jahat ini pergi dariku, olahraga yang teratur, dan tidur yang cukup. Hari demi hari pun berganti, tak terasa besok adalah hari di mana aku dan Ratna berlomba bersama. Rasanya seperti mimpi, aku duduk menatapi ke luar jendala. Melihat hujan turun dan entah kenapa hujan turun di luar namun yang basah adalah pipiku. Tiba-tiba Ratna datang ingin mengejutkanku namun aku sudah tahu itu, aku berpura-pura terkejut agar dia terlihat bahagia. Aku senang berpura-pura demi kebahagiaan Ratna, aku berpikir jika aku tak melakukan itu dan waktuku sudah habis maka akanku kutuk diri ini. Aku tak ingin lagi melihat semua orang menangis karena monster jahat ini, aku ingin melihat mereka tersenyum saat aku berada di pentas. Bukan menangisiku dengan tatapan iba.
Hari itu telah tiba, hari di mana aku dan Ratna menampilkan tarian kami yang sudah kami latih dari minggu-minggu yang lalu. Aku berpegangan dengan Ratna saat nama Sekolah kami di sebut, lalu aku menyuruhnya naik ke pentas terlebih dahulu. Aku merasakan tubuhku terasa sedikit lemas, aku takut kejadian ini terjadi lagi. Aku menunduk, tanpa sadar tanganku sudah di tarik Ratna untuk naik ke pentas. Kami menari, mengikuti alunan musik yang indah. Menari, menari, menari, tersenyum dan bahagia. Sebentar lagi, tarian ini selesai jangan sampai aku tumbang. Namun aku tak bisa mengendalikan diriku, aku jatuh kembali di pentas. Darah berceceran di sekitar pentasku, Ratna berhenti menari. Suara musik pun berhenti, perlahan lahan mataku kembali seperti di tutup oleh seseorang. Semua orang terkejut, ayahku yang sedari tadi merekam langsung menghambur ke depan pentas.
“Sebentar lagi kita sampai, sabarlah-sabarlah, ayah ada di sampingmu. Ayo lawan monster itu, ayah tahu kau lebih kuat dari pada ibumu.” Ucapnya samar-samar namun terdengar olehku. Tubuhku sudah dipenuhi alat-alat canggih rumah sakit ini, aku tak lagi bernafas dengan lancar. Melainkan dibantu oleh oksigen yang ada di rumah sakit, selang-selang yang ada di tubuhku membuatku ingin mencabutnya. Saat aku membuka mata yang terlihat pertama kali adalah ayahku, dia sangat cemas. Ayahku langsung memelukku saat mataku terbuka, “Nina? Kau kali ini akan menang kan? Benar kan?” Tanya Ayahku penuh harapan. Aku menunjuk buku dan pulpen yang ada di nakas agar ayah memberikan itu kepadaku. “Ini Nin, tulislah apa yang ingin kau katakan kepada ayah.” Aku menulis kata ayah bisakah kau memberikan aku waktu untuk diriku sendiri? Ayah hanya menatapku dan dia mulai keluar bersama suster yang merawatku.
Kali ini aku kalah, entah kenapa aku lelah dengan ini. Apakah ibu juga lelah? Apa rasanya melawan monster akut yang menggerogoti tubuh ibu dalam hitungan minggu? Saat itu aku hanya melihat ibu tersenyum melawan ini semua. Aku tak bisa begitu, karena aku tak ingin kalah dari siapa pun. Kali ini aku kalah bu, aku sudah menang sekali namun kali ini aku tak bisa lagi berjuang. Monster ini diam-diam memiliki strategi yang kuat, mereka banyak dan aku sendirian. Rasanya aku tak tega meninggalkan ayah sendiri, Ratna, dan juga yang lainnya. Tapi aku tak bisa lagi menahan ini, Ayah jika kau membaca surat ini jangan sesekali kau menitikkan air mata untukku. Mungkin aku sudah di sana bersama ibu, jika aku lihat dari atas kau menangis maka akanku cubit daun telingamu seperti kau mencubit daun telingaku di saat aku nakal. Aku dan ibu akan tenang di sini yah, buatlah kebahagiaanmu. Jangan sesekali kau terpuruk dengan keadaan ini, anggaplah ratna itu seperti anakmu. Untuk Ratna, jika kau membaca surat ini mungkin aku sudah tidur untuk selamanya, jangan lagi kau melihat keluar jendela saat hujan dan yang basah adalah pipimu. Jika aku melihatmu seperti itu dari atas sana, maka akanku pukul kepalamu. Saat aku tidur nanti, aku harap cuaca sangat indah. Tak ada yang namanya air jatuh dari langit, aku ingin semuanya bahagia saat aku tidur. Setelah menulis surat itu aku tertidur selama-lamanya dengan mengalungkan medali yang aku menangkan saat aku lomba menari.
Hallo, ini adalah blog pertama seorang anak remaja yang masih duduk di bangku smp. Cerpen ini adalah materi cerpen ringan yang sudah kutunjukkan kepada guru sebagai sleksi lomba cerpen, namun aku tak lolos karena cerpen ini terlalu ringan. Maybe, semoga kalian suka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar